Siapa sangka, di balik cita rasa pasta yang begitu autentik, tersimpan kisah hidup yang lebih dramatis dari film layar lebar mana pun. Chef Joko, sosok di balik Hoz Pasta & Coffee, pernah menghabiskan bertahun-tahun berlayar di perairan paling berbahaya di dunia — termasuk melewati wilayah yang dikuasai bajak laut Somalia.
Perjalanannya dimulai sebagai juru masak kapal pesiar internasional di usia yang sangat muda. Dari dapur kapal yang bergoyang diterpa ombak, ia belajar memasak untuk ribuan tamu dari berbagai penjuru dunia. Setiap pelabuhan yang disinggahi menjadi kelas kuliner tersendiri — dari teknik pasta al dente di Naples, saus bolognese otentik di Bologna, hingga rahasia espresso sempurna di Roma.
Namun, momen yang paling membentuk karakternya terjadi di Teluk Aden. Ketika kapal yang ditumpanginya nyaris dibajak, Chef Joko menyadari betapa berharganya setiap momen hidup. 'Di saat itu saya berjanji, jika selamat, saya akan membawa semua ilmu ini pulang dan berbagi dengan orang-orang di tanah air,' kenangnya.
Setelah 40 tahun mengarungi lautan dan memenangkan 7 kali kompetisi Allez Cuisine di berbagai negara, Chef Joko kembali ke Tanah air tapi bukan untuk kembali berkarir di hotel bintang lima atau restoran mewah di pusat kota, tapi di sebuah kedai sederhana yang ia namai Hoz Pasta — singkatan yang menyimpan makna personal mendalam baginya.
Filosofi masaknya sederhana namun revolusioner: cita rasa bintang lima tidak harus dijual dengan harga selangit. 'Pasta terbaik dibuat dengan cinta dan teknik yang benar, bukan dengan harga yang mahal,' ujarnya. Di Hoz Pasta menyajian Kuliner Pasta & Tempat Makan Pizza & Kopi dengan harga mulai dari 20ribuan.
Kini, Hoz Pasta memiliki beberapa cabang dan Chef Joko terus menginspirasi generasi baru pecinta kuliner. Kisahnya membuktikan bahwa perjalanan terhebat tidak selalu tentang tujuan, tapi tentang apa yang kita bawa pulang dari setiap petualangan.

